_Group-think_ alias jebakan pemikiran kelompok: apa artinya dan bagaimana cara menghindarinya

Nomad Soul/Shutterstock

Mantan penasihat pemerintah Inggris, Dominic Cummings beberapa saat lalu membuat kontroversi dengan menyebut bahwa respons pemerintah yang buruk terhadap krisis COVID-19 di Inggris merupakan “contoh klasik dari pemikiran kelompok (group-think).”

Dia mengatakan semakin banyak orang mengkritik rencana pemerintah, semakin banyak orang di dalam pemerintahan yang akan berdalih bahwa orang lain gagal paham.

Ia menambahkan bahwa, jika masyarakat dan komunitas peneliti diberi kesempatan sejak awal untuk membedah kebijakan COVID-19 pemerintah Inggris, “kita akan mengetahui setidaknya enam minggu lebih awal bahwa ada berbagai rencana alternatif yang lebih baik”.

Meskipun kita tidak dapat mengetahui kebenaran dari kritik tersebut secara pasti, hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang dinamika pengambilan keputusan dalam kelompok. Apa itu group-think dan bagaimana kita bisa menghindarinya menurut riset?

Group-think adalah istilah populer yang menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang sebenarnya cerdas dapat membuat keputusan yang salah. Intinya adalah bahwa kelompok menciptakan tekanan psikologis pada individu untuk menyesuaikan diri dengan pandangan para pemimpin dan anggota lainnya.

Contoh populer dari group-think adalah keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Kuba pada tahun 1961, serta keputusan Coca-Cola untuk meluncurkan produk “New Coke” pada tahun 1985.

Dalam kedua contoh ini, serta berbagai contoh populer lainnya, suatu kelompok gagal dalam membuat pilihan yang tepat walaupun mereka memiliki semua informasi yang mereka butuhkan. Para anggota gagal memberikan kritik dan informasi alternatif yang dapat membantu kelompok mereka menghindari keputusan yang memalukan atau tragis.

Apa yang menyebabkan group-think

Bagaimana orang-orang pintar bisa berkumpul dan sampai pada kesimpulan yang nampaknya meragukan?

Ada tiga alasan utama kelompok dapat menciptakan tekanan yang kemudian dapat mengarah pada keputusan yang salah.

Pertama, semua manusia ingin merasakan rasa memiliki satu sama lain – evolusi seperti mendorong otak kita untuk menemukan kebersamaan dengan suatu kelompok. Dalam situasi kelompok apa pun, secara sadar atau pun tidak, kita selalu ingin merasa diterima dan dihargai oleh anggota lain. Salah satu cara untuk mendapatkan penerimaan dan penghargaan adalah dengan mencari kesamaan dengan orang lain.

Tetapi, ketika semua anggota melakukan ini, diskusi kelompok menjadi bias dan berujung pada kesamaan dan kesepakatan. Sayangnya, ini menghilangkan potensi perbedaan dan ketidaksepakatan.




Baca juga:
Mengapa orang beragama? Ini analisis psikologi kognitif


Misalnya, jika seorang anggota kelompok mengatakan bahwa mereka menyukai acara TV tertentu, anggota lain yang juga menyukainya kemungkinan besar akan berbicara. Mereka yang belum melihatnya atau tidak menyukainya lebih cenderung untuk tetap diam. Bukan berarti ketidaksetujuan tidak pernah terjadi, hanya saja mungkin jarang terjadi dalam diskusi kelompok.

Ketika diskusi kelompok berjalan dengan dinamika seperti ini – anggota mengekspresikan lebih banyak persetujuan daripada ketidaksetujuan – mereka yang memiliki pendapat berbeda mulai percaya bahwa pandangan mereka tidak sesuai dengan mayoritas. Hal ini membuat mereka cenderung menahan informasi atau pandangan yang bisa jadi akan mendapat penolakan dari anggota lain.

Kedua, seperti kata pepatah bahasa Inggris, “if you want to get along, go along” (“jika Anda ingin akrab, ikutilah”).

Meskipun ketidaksepakatan adalah hal yang sehat dalam suatu kelompok – dan, memang, merupakan esensi dari pengambilan keputusan kelompok – ketidaksepakatan yang sehat seringkali berujung pada konflik yang bersifat personal dan menyakiti perasaan orang lain. Risiko ini, seberapa pun kecilnya, membuat mereka yang tidak setuju terlalu sering menahan diri untuk berpendapat.

Tekanan ini bahkan lebih kuat ketika anggota kelompok memiliki posisi tinggi – seperti pemimpin formal atau mereka dengan status yang dihormati oleh orang lain – kemudian mengungkapkan pendapat mereka.

Dalam situasi ini, ada batasan-batasan tak terlihat yang membuat kita enggan berbicara atau menyampaikan ketidaksetujuan kepada anggota lain. Perasaan ini sangat sulit diatasi, terutama jika kita menyadari bahwa dengan pendapat tersebut, kita akan membuat diri kita berseberangan dengan seorang pemimpin.

Ketiga, kita secara bawah sadar menyesuaikan preferensi kita agar sesuai dengan apa yang kita anggap sebagai pandangan mayoritas. Dengan kata lain, ketika kita sendiri tidak memiliki pendapat yang jelas tentang sesuatu, kita hanya mengadopsi pandangan anggota lain – ini sering terjadi, bahkan tanpa kita sadari.

Setelah kita mengadopsi preferensi tersebut, ia kemudian menjadi filter untuk segala informasi yang kita terima. Kita mudah mengingat informasi yang sesuai dengan preferensi kita sendiri, tetapi cenderung melupakan informasi yang tidak sesuai dengan preferensi kita.

Dengan begitu, seorang anggota yang mengungkapkan persetujuannya, secara tidak langsung menciptakan lingkaran setan yang terus menerus mendorong kesepakatan kelompok.

Bagaimana cara menghindari group-think?

Resep mujarab untuk menghindari group-think adalah berfokus terlebih dahulu pada opsi dan informasi, serta menahan dulu segala keputusan maupun pandangan personal.

Setelah menentukan tujuan, kelompok harus mempertimbangkan sebanyak mungkin pilihan. Semua anggota sebaiknya dimintai semua informasi yang relevan tentang semua opsi ini – bahkan jika informasi tersebut berseberangan dengan preferensi anggota lain. Setelah proses pembedahan yang menyeluruh dan sistematis, baru kemudian anggota dapat mulai mendiskusikan pilihan mereka atau menganjurkan satu opsi di atas yang lain.

Pemimpin juga punya peran penting dalam menghindari pemikiran kelompok.

Riset telah menunjukkan bahwa pemimpin yang mengarahkan proses pengambilan keputusan, tetapi tidak membagikan preferensi mereka sendiri atau mendorong terpilihnya opsi tertentu, dapat membantu kelompok menghindari group-think sekaligus menghasilkan keputusan yang lebih baik. Para pemimpin yang mendorong pilihan-pilihan tertentu, terutama sejak awal, cenderung menyesatkan kelompok mereka dan lebih rawan jatuh pada jebakan group-think.

Dalam menghindari jebakan pemikiran kelompok, pemimpin sebaiknya berperan sebagai detektif, yakni mengajukan pertanyaan dan mengumpulkan semua fakta. Memimpin dengan pola pikir ingin memenangkan debat atau mendorong preferensi pribadi hanya membuat kelompok jauh lebih rentan untuk melakukan group-think.

Terlepas dari bagaimana pemerintah membuat keputusan di masa lalu, idealnya mereka memastikan semua lembaga pembuat keputusan dapat mengikuti saran-saran di atas. Sebab, kelompok yang paling cerdas dan memiliki niat terbaik pun rentan terhadap jebakan psikologis berupa group-think.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

The Conversation

Colin Fisher tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.