Anak Muda Berkontribusi Positif dalam Aksi Iklim

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM – Keterlibatan anak muda dalam penanganan dan pengendalian krisis iklim semakin mendesak. Perspektif dan kontribusi mereka perlu hadir dalam berbagai diskusi dan perumusan kebijakan, termasuk pada agenda antarpemerintah G20 yang tahun ini Indonesia memegang presidensinya.

Berbicara di hadapan 50 orang mahasiswa terpilih yang telah lolos dalam seleksi penulisan esai Youth Virtual Conference 2022, Uslaini Chaus, Kepala Divisi Perlindungan dan Pengembangan Wilayah Rakyat Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengingatkan tentang pentingnya keterlibatan kelompok pemuda dalam melakukan pelestarian alam dan hutan.

Ia menyebutkan, WALHI telah melakukan inisiatif Green Student Movement (GSM) sejak tahun 2000-an. GSM ini berupa kegiatan berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan serta organisasi kemahasiswaan, dengan target mengedukasi para pelajar agar tidak hanya memahami isu lingkungan, tapi juga tergerak melakukan aksi mitigasi krisis iklim di lingkungannya masing-masing.

“Saat ini, WALHI sedang menyiapkan sebuah Akademi Ekologi dengan tujuan untuk mendidik orang muda di Indonesia memahami persoalan lingkungan, HAM dan krisis iklim. Harapannya, semakin banyak orang muda bersuara dan mengambil tindakan untuk keadilan ekologis dan keadilan iklim di Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Konsultan pada Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) dr. Alvi Muldani mengatakan bahwa anak muda dapat berkontribusi dan terlibat pada pemberdayaan masyarakat untuk menjaga hutan.

“Ada dua cara untuk memerangi climate change yaitu mengurangi produksi karbondioksida atau menambah penyerapannya,” terangnya.

ASRI dalam kegiatan reforestasi, mengajak para mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat dan terlibat dalam kegiatan kehutanan dengan menanam pohon.

“Target global adalah mempertahankan kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5ºC. Ini merupakan target bersama, sehingga kita semua harus terlibat dalam menjaga hutan,” tambahnya.

Di sisi pemanfaatkan sumber daya alam, pemahaman bisnis berkelanjutan perlu dipahami oleh anak muda. Partner Equatora Capital/Supernova Ecosystem, Inez Stefanie menegaskan bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan lensa dan kerangka kerja yang seyogyanya digunakan pelaku bisnis dalam mengembangkan bisnisnya.

Lantas bagaimana anak muda bisa melakukan bisnis yang berkelanjutan? Inez menyebutkan pemikiran John Elkington, salah satu pelopor gerakan keberlanjutan global, di mana dia memperkenalkan konsep Green Swans atau Angsa Hijau yang menekankan perubahan paradigma bahwa bisnis tidak semata untuk cuan.

Dalam berbisnis, misalnya, tidak boleh merampas sumber daya dan masa depan masyarakat untuk kepentingan hari ini saja. Aspek pekerja pun harus diperhatikan, seperti upah yang adil, hingga memberikan peluang bagi pekerja untuk mengasah keterampilan.

“Sekecil apa pun kontribusi yang kita harapkan, sebenarnya kita merupakan bagian dari picture yang lebih besar, atau karena kita hidup di bumi kita ini,” ujar Inez.

Sementara itu, Benedikta Atika dari Impact Investment Lead menyampaikan bahwa bisnis di masa depan harus memberikan dampak pada lingkungan alam dan lingkungan sosial. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kerangka ekonomi hijau dan bisnis berkelanjutan.

“Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak muda dalam berkontribusi untuk ekonomi hijau dan bisnis berkelanjutan misalnya sebagai produsen atau start-up atau pelaku bisnis yang mengembangkan komoditas hijau, sebagai profesional yang bergerak dan mendukung di isu lingkungan, seperti profesi peneliti ataupun sebagai konsumen,” ujarnya.

Atika menambahkan, “Hal sederhana yang dapat dilakukan anak muda sebagai konsumen, misalnya kesadaran untuk tidak menggunakan air atau energi yang berlebihan serta membeli produk-produk yang tidak merusak lingkungan.”

Secara sektoral, anak muda bisa berkontribusi lebih lagi dalam pengembangan energi bersih dan terbarukan dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Kaum muda dapat berkontribusi dengan mencari pengetahuan terbaru, mencari permasalahan dalam pengembangan energi bersih yang menarik minat, dan mulai menjadi bagian dari solusi dengan meningkatkan kesadaran orang-orang terdekat.

Salah satunya terkait dengan bauran energi nasional. Hal ini ada kaitannya dengan minimnya aturan untuk memayungi proses transisi energi. Konsultan Transportasi Listrik Idoan Marciano menyebut, tantangan yang dihadapi cukup besar, karena energi fosil masih mendominasi.

“Padahal, pada tahun 2025, pemerintah memasang target 23% bauran energi terbarukan dari energi primer,” katanya.

Sementara itu, tenaga surya potensinya sangat besar di Indonesia. Dan secara ekonomis, penggunaan energi surya sudah mulai bersaing dibandingkan energi fosil.

“Secara ekonomi sudah kompetitif, karena itu saya rasa optimis terhadap pengembangan energi bersih dan terbarukan, di mana anak muda bisa berkontribusi banyak,” tandasnya. (Jekson Simanjuntak)