Banyak Ikan Sapu-Sapu di Kali Baru Mati, Perlu 12 Hari Ketahui Sebabnya

Jakarta (Greeners) – Penyebab temuan ikan sapu-sapu yang mati di aliran Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin (11/7) lalu masih belum terungkap. Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta kini tengah melakukan uji laboratorium. Hasil uji laboratorium membutuhkan waktu sekitar 12 hari.

Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Yogi Ichwan mengatakan, pihaknya telah mengirimkan petugas untuk mengambil sampel air di Kali Baru. Sampel ini kemudian mereka bawa ke Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) DKI Jakarta.

“Kemudian dilakukan analisa sehingga dapat kita ketahui dari mana sumber pencemarnya,” katanya kepada Greeners, Rabu (13/7).

Dari pengamatan, ikan-ikan tersebut mati sehari pasca hari Raya Iduladha Minggu (10/7) lalu. Muncul dugaan kuat bahwa ikan-ikan tersebut mati karena sampah jeroan hewan kurban yang dibuang ke sungai.

Merespon hal ini, Yogi juga belum bisa memastikan dan menunggu dari hasil laboratorium. Hanya saja, ia menyatakan bahwa temuan ikan-ikan mati ini baru pertama kali terjadi.

“Kalau untuk Iduladha sebelumnya ini tidak pernah terjadi. Kami baru mendapatkan laporan ini kemarin Senin bertepatan dengan sehari setelah Iduladha,” imbuhnya.

Ikan Sapu-Sapu Miliki Peran Penting di Perairan

Yogi menambahkan, ikan sapu-sapu memiliki peranan yang penting di perairan. Selain efektif membersihkan perairan, ikan jenis ini turut mendekomposisi dan memakan sisa-sisa makanan biota air lainnya.

Tak hanya itu, bahkan ikan sapu-sapu menjadi indikasi pencemaran. Adapun salah satu parameter dalam uji laboratorium yaitu Biological Oxygen Demand (BOD), kandungan oksigen di dalam perairan. Ikan sapu-sapu, sambung Yogi merupakan ikan yang tahan dengan kadar oksigen rendah.

“Ketika ikan sapu-sapu mati bisa dipastikan kadar oksigennya sangat rendah sehingga memang dipastikan terjadi pencemaran,” ucapnya.

Selain melakukan pengujian sampel ikan sapu-sapu yang mati uji sampel pada air di Kali Baru tersebut juga DLH DKI Jakarta lakukan. Salah satu tujuannya yaitu untuk pengujian BOD atau oksigen dalam air tersebut.

DLH DKI Jakarta menyebut butuh 12 hari uji sampel di laboratorium untuk mengetahui penyebab atau sumber pencemar di Kali Baru, Kramat Jati. Foto: DLH DKI Jakarta

Pencemaran Sungai Bisa Sebabkan Ikan Mati

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Suci Fitria Tanjung menyatakan, berkaca dari kondisi pencemaran sungai karena limbah ternah, imbasnya hampir pasti ikan mati.

Kandungan di dalam limbah ternak, lanjutnya berkontribusi pada penurunan kadar oksigen dalam air.
Padahal ikan sapu-sapu merupakan salah satu ikan invasif dengan karakteristik yang paling toleran terhadap pencemaran. “Kalau kadar oksigen turun drastis, apapun jenis ikannya akan sulit beradaptasi,” tandasnya.

Menurut Suci, kondisi eksisting 13 sungai di Jakarta saat ini memang sudah tercemar pada tingkat sedang hingga berat. Rata-rata, sambung dia sungai di Jakarta tercemar bakteri E.Coli dan unsur logam.

“Dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup tahun 2021 yang DLH DKI Jakarta rilis, air sungai kita sudah berPH masam. Artinya kandungan logamnya sudah sangat tinggi. Ini dapat menghambat perkembangbiakan ikan dan berbahaya bagi manusia,” tuturnya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Ekologi Observasi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi menyebut, matinya ikan sapu-sapu sangat mungkin karena sampah jeroan bersamaan dengan Hari Raya Iduladha.

Jeroan hewan kurban menyebabkan tingkat kekeruhan yang tinggi. Selain itu juga menimbulkan tingginya bakteri pengurai yang terlepas bersama dengan jeroan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin