BTS rehat : di antara ambisi _soft power_ Korea Selatan dan menjaga keamanan nasional

MediaPunch Inc/Alamy

Keputusan yang diambil oleh sensasi K-pop, BTS, untuk rehat mengecewakan banyak orang di seluruh dunia. Namun, berbeda dengan the Beatles atau One Direction, keputusan mereka ini terkait dengan politik semenanjung Korea dan tantangan untuk menyeimbangkan keamanan nasional dengan ambisi Korea terhadap soft power (kekuatan lunak) di wilayahnya.

Tujuh anggota BTS menyampaikan berita tersebut di sebuah acara makan malam tahunan, yang disiarkan langsung ke penggemar di seluruh dunia pada 15 Juni, dengan alasan kelelahan dan keinginan untuk mengejar proyek solo. Beberapa kebingungan muncul setelahnya ketika, dalam upaya untuk memperlambat harga saham mereka yang jatuh, perusahaan agensi yang menaungi mereka , Hybe, mengatakan bahwa BTS akan terus bekerja baik sebagai group dan individu.

Namun, penggemar yang cerdas menduga keputusan itu sudah diperhitungkan, mereka berspekulasi bahwa beberapa anggota BTS akan segera memenuhi tugas wajib militer mereka. Perpecahan ini terjadi hanya beberapa minggu setelah debat politik yang intens di Korea Selatan terkait apakah anggota BTS harus dibebaskan dari persyaratan wajib militer Korea Selatan.

Tidak ada pengecualian

Typically, exemptions are only allowed for medical reasons, although the exemption system has been subject to abuse over the years. Major international competition winners may do forms of community service instead, such as that completed by Tottenham Hotspur’s Son Heung-min in 2022. This involved a few weeks of basic military training and volunteer football coaching for school children in London.

Biasanya, pengecualian hanya diperbolehkan untuk beberapa alasan tertentu seperti alasan medis, meskipun sistem pengecualian telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Pemenang kompetisi internasional dapat melakukan bentuk pelayanan masyarakat sebagai gantinya, seperti yang dilakukan oleh Pemain Tottenham Hotspur, Son Heung Min di tahun 2022. Pengecualian ini menempatkan Son Heung Min untuk mengikuti kegiatan beberapa minggu pelatihan dasar militer dan pelatihan sepak bola sukarela untuk anak-anak sekolah di London, Inggris.

Ada beberapa spekulasi bahwa memenangkan Grammy pada tahun 2022 mungkin bisa menjadi pengecualian bagi BTS, tetapi mereka pulang tanpa mendapat apa- apa – meskipun mereka merupakan salah satu band terlaris di dunia.

Perdebatan seputar wajib militer tidak terbatas pada bintang K-pop. Ini juga telah menjadi topik diskusi publik yang lebih luas dalam beberapa tahun terakhir. Perdebatan ini sebagian besar didorong oleh para pemuda yang tidak puas yang merasa semakin frustrasi karena harus berhenti belajar dan bekerja untuk memperkuat pertahanan Korea Selatan, terutama melawan Korea Utara.

Budaya militer

Budaya wajib militer diperkenalkan saat
berdirinya negara Korea Selatan pada tahun 1948. Hal ini dirasa penting setelah pecahnya Perang Korea (1950-53) untuk memastikan Korea Selatan bisa mempertahankan diri dari serangan Korea Utara.

Pertahanan militer kemudian menjadi penting di dalam proses pembangunan bangsa Korea di saat era industrialisasi di bawah suksesi kediktatoran militer, dari tahun 1960-an hingga demokratisasi di akhir 1980-an.

Meskipun Korea telah memiliki serangkaian presiden sipil non-militer sejak 1993, bertugas di militer terus menjadi bagian sentral dari kualifikasi pria untuk mendapat pekerjaan dan kehidupan yang layak.
Hal ini mengikat laki-laki Korea ke budaya militerisme.
Misalnya, menyelesaikan wajib militer masih dianggap sebagai bukti dari seorang pria yang berkomitmen sebagai
warga negara Korea Selatan. Wajib militer menjadi prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan pegawai negeri dan perusahaan, dan jaringan alumni militer terus menentukan peluang pria sepanjang hidupnya.

Meskipun anak muda tidak perlu lagi menjalani wajib militer selama tiga tahun seperti yang terjadi pada ayah dan kakek mereka,
wajib militer yang berlangsung selama 18 bulan saat ini mewajibkan anak muda untuk melakukan sebelum berusia 28 tahun. Ini yang dikeluhkan beberapa tahun belakangan.

Pada tahun 2015, kaum muda mulai menggambarkan kehidupan di masyarakat hiper-kompetitif Korea Selatan sebagai “Neraka Joseon” . Ini, menurut mereka, merupakan reinkarnasi dari masyarakat Dinasti Joseon yang feodal dan hierarkis (1392-1897), yang dirusak oleh ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang ekstrem. Dinas militer dipandang sebagai salah satu dari daftar panjang tuntutan yang sudah membebani para pria yang berjuang untuk akses ke pendidikan yang bereputasi baik, pekerjaan yang aman, dan pernikahan yang langgeng.

Kepentingan nasional yang bersaing

Dalam lingkungan yang kontroversial ini, membiarkan tujuh warga negara laki-laki yang tampak sehat, muda, untuk melewatkan wajib militer mungkin bukan keputusan yang baik bagi presiden baru Korea Selatan yang baru terpilih, Yoon Suk-Yeol. Yoon ingin mengambil hati pemilih laki-laki muda, yang memimpin kelompok yang mengeluh dengan keberadaan “Hell Joseon”. Tapi Yoon juga tahu perlunya mempertahankan kapasitas pertahanan yang kredibel melawan ancaman Korea Utara

Namun, pemerintah Korea Selatan menghadapi tekanan lain: yakni kebutuhan untuk terus mempromosikan dan mengeksploitasi keberhasilan industri budaya populernya.

“Gelombang Korea”, yang mengacu pada popularitas global musik Korea, film, televisi, dan aspek budaya populer lainnya, merupakan sumber utama pendapatan ekspor yang juga menghasilkan
pengaruh soft power yang cukup besar untuk Korea.BTS telah berada di puncak selama bertahun-tahun, di samping kesuksesan global Korea dalam film (Parasite) dan drama televisi (Squid Game). BTS adalah grup pop Korea pertama yang “menembus Amerika” dan dunia, berkat lirik bahasa Inggris, lagu yang menarik, jaringan penggemar digital dan kolaborasi internasional tingkat tinggi.

Di luar musik, pengaruh BTS terhadap banyak penggemar Korea dan internasional membuat mereka mendapat tempat di podium pada pembukaan sesi ke-76 Majelis Umum PBB bersama presiden Moon Jae-In pada tahun 2021. Selengkapnya baru-baru ini, mereka muncul di pertemuan puncak Gedung Putih terkait fenomena kebencian terhadap warga Asia. Mereka adalah Duta Unicef dan telah berkeliling dunia menyebarkan pesan cinta mereka. Dengan keberhasilan mereka, meereka berpengaruh dalam menentukankedudukan Korea Selatan di laga internasional.

Jadi ada ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan soft power dan kebutuhan untuk mempertahankan wajib militer. Grup K-pop sejak 1990-an telah meninggalkan kesuksesan mereka untuk wajib militer. Anggota grup K-pop SHINee, VIXX dan
2AM
telah mengumumkan rehar untuk menyelesaikan wajib militer mereka.

Namun, ketenaran global BTS mungkin membuat mereka menjadi pengecualian. Mungkin saja para anggota memenuhi tugas dinas nasional mereka dan kembali, baik secara individu, dua atau tiga orang, atau bersama-sama. Dilihat dari curahan cinta untuk mereka secara online saat ini, mereka akan diterima di panggung apa pun, di mana pun, jika ada kesempatan untuk bersatu kembali muncul.


Arina Apsarini dari Binus University menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

The Conversation

Sarah A. Son does not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organization that would benefit from this article, and has disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.