Cerita dari Komunitas Pemuda di Makassar, Sulap Lorong Sunyi jadi Wisata

Klikhijau – Pemuda hidupkan potensi wisata eco-green di lorong pemukiman warga, tepatnya di Jl. Toddopuli IV, Setapak 13 Kelurahan Pandang kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

Komunitas pemuda ini mengusung kegiatan dengan rangkaian pengecatan papin blok, penanaman bibit, dan memanen kangkung.

Pada 22 Juli 2022 kemarin, komunitas pemuda ini menggelar kegiatan bersama warga, anak anak dan anggota tour radiant life excursions yang berasal dari Amerika.

Jemmy CEO radiant life excursions menilai kegiatan ini tidak hanya soal lingkungan tapi ada hubungan sosial di dalamnya.

“Kegiatan begini melibatkan banyak anak anak, mereka bisa saling memberkahi dan mengasihi, menikmati waktu bermain dan belajar bersama,” tuturnya.

Lorong yang dikenal dengan sebutan D kelor ini, sebelumnya dianggap mistis oleh warga. Kondisinya yang sunyi dengan beberapa rumah tidak berpenghuni membuat warga takut untuk sekadar melintas.

Barulah di tahun 2019, Akram (Ketua Komunitas BSU Pemuda Kreatif) dan pemuda lainnya berinisiatif mengubah pola pikir warga. Rumah kosong itu dipermak sedemikian rupa agar tidak tampak menyeramkan.

Tak sampai disitu, mereka juga menarik perhatian warga melalui pendekatan lingkungan.

Cerita dari Komunitas Pemuda di Makassar, Sulap Lorong Mistis jadi Wisata
Anak-anak berkreasi mewarnai jalan di lorong wisata di Makassar. Foto: Reza

Pilah sampah dan tanam stroberi

“Kami mengajak masyarakat untuk memilah sampah kering dan sampah basah, organik dan non organik, juga memisahkan sampah bersih. Botol yang sudah dilepas label dan tutupnya dikategorikan bersih,” ucap Akram.

Masuk di tahun 2020 mereka membuat taman mini dengan memanfaatkankan lahan kosong milik warga. Dalam pengembangannya, lorong ini dipersiapkan menjadi salah satu objek wisata eco-green di Kota Makassar.

Ada beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan, di antaranya kangkung, cabe dan stroberi. Sebagian besar media tanam yang digunakan dari bahan bekas, seperti lemari, pipa, botol dan barang bekas lainnya.

Menurut Akram salah satu tanaman unggulan lorong kelor ini adalah stroberi, tanaman yang biasanya hanya dilihat bentuk buahnya saja.

“Stroberi akan menjadi ikon nantinya, banyak orang yang akan penasaran dan kaget kenapa stroberi bisa tumbuh subur di kota. Selain itu, stroberi tanaman yang cukup digemari banyak kalangan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan Awal mula budiya tanaman stroberi. Sebenarnya karena rasa penasaran, beberapa kali mengalami kegagalan. Akram dibantu kakaknya Idris terus membeli bibit baru sampai akhirnya menemukan pola tanam yang cocok.

“Kami bukan merawat tanamannya tetapi kami merawat tanahnya. nah seperti itu jadi kapan kita merawat tanahnya otomatis tanaman akan ikut terjaga dan ternutrisi,” imbuhnya.

Lurah setempat, Nurul Oktavia juga turut andil dalam kegiatan ini. Ia berharap lewat kehadiran lorong ecogreen ini masyarakat bisa mengembangkan ekonomi mandiri.

“Harapan kami melalui ecogreen masyarakat yang menganggur bisa produktif kembali, dengan jual kembali sayurnya dan stroberi untuk pemulihan ekonomi,” harapnya.

Aktivitas ini juga mendapat respon dari kepala Camat Panakukang Andi Pangeran Nur Akbar yang turut hadir dan berkontribusi menanam dan memanen sayuran.

Menurutnya tidak semua lorong dapat melakukan kegiatan ini, antusias dan semangat warga harus didukung penuh oleh pemerintah.

“Saya sangat mensupport kegiatan ini, kami akan melakukan pengajuan proposal pada dinas terkait, seperti dinas ketahanan pangan dan pertanian,” tuturnya saat sedang melihat tanaman budidaya warga.

Lebih lanjut Ia berharap dengan hadirnya lorong ekowisata ini bisa menjadi ciri khas Kota Makassar khususnya di Panakukang.

The post Cerita dari Komunitas Pemuda di Makassar, Sulap Lorong Sunyi jadi Wisata appeared first on Klik Hijau.