Cerita Sepasang Suami Istri Pencetus Usaha Abon Ikan Tuna di Manokwari

Klikhijau.com – Papua memang dikenal kaya potensi perikanannya, termasuk ikan tuna. Di Manokwari Papua Barat ada usaha rumahan abon ikan tuna yang kini sedang naik daun. Nama produknya adalah abon ikan tuna madurasa.

Di balik perjalanan usaha rumahan ini bertumbuh, ada cerita menarik dari pencetusnya. Yah, usaha ini dikembangkan oleh sepasang suami istri yakni Bapak Sunandi Kramulyana dan Ibu Yati Suryati.

Bapak Sunandi, seorang pensiunan Guru dan istrinya Yati adalah ibu rumah tangga yang sejak mudanya sudah memulai bisnis rumahan.

Di rumahnya di komp. STTPP/SPMA Jl. Asahan no.8 Manokwari Papua Barat, usaha abon ini dikembangkan dengan niatan tinggi memberi dampak secara ekonomi sekaligus memanfaatkan potensi sumber perikanan yang melimpah.

Awal mula merintis usaha

Pada awalnya pasangan Bapak Sunandi dan Ibu Yati mengembangkan usaha ternak ayam.

Sayangnya, usahanya ini tidak berlanjut. Pasca reformasi usaha ternak ayam yang ditekuninya mengalami kesulitan sumber daya pakan.

Pak Sunandi bahkan harus mencari pakan keluar kota dan kadang membuat pakan ayam sendiri dengan bahan utama ikan-ikan besar (jenis tuna) sekaligus untuk membantu para nelayan ikan agar ikan-ikan tersebut laku, karena pada saat itu ikan sangat sulit laku.

Di balik kisah sulitnya akses pakan ternak inilah, pasangan suami istri ini kemudian memiliki ide mengelola ikan tuna tak sekadar pakan ternak, namun juga dicoba diolah menjadi abon. Pasangan ini memulai usaha abon ikan pada tahun 1999 dan berkembang hingga kini.

Bermula dari keberanian membuatnya sendiri lalu memperkenalkannya pada tetangga terdekat. Lalu, suatu waktu Ibu Yati membawa hasil abon tersebut ke suatu arisan untuk dinikmati Bersama teman-temanya.

Di luar dugaan, rekan-rekan arisannya ternyata kepincut dengan rasa abon ikan buatannya. Mereka pun memesan abon ikan dalam jumlah yang lumayan banyak. Walhasil, pasangan ini akhirnya mulai membuat abon ikan untuk pesanan.

Seiring berjalanya waktu, dari teman-teman beliau yang membantu mengenalkan abon ikan tersebut kepada masyarakat luas. Hari demi hari semakin banyaklah pesanan. Sejak itu, keduanya mulai fokus untuk membuat usaha abon ikan hingga sekarang yang dikenal dengan nama Abon Ikan Madurasa.

Menariknya, motivasi pasangan ini untuk membuat suatu usaha dari ternak ayam dan abon ikan tak hanya untuk obsesi bisnis semata, tetapi untuk bahan materi mengajar.

Sebagai guru SMA Agribisnis, beliau ingin memberi contoh dan inspirasi bahwa dalam ilmu Agribisnis yang diajarkan bukan hanya materi saja namun juga bagaiman cara pengaplikasianya (prakteknya). Tujuannya tentu saja agar murid-muridnya juga bisa menciptakan suatu usaha dengan materi dan teori yang beliau sudah ajarakan.

Suka duka berproses

Di balik cerita suksesnya mengembangkan usaha abon ikan tuna madurasa, menyimpan suka dukanya tersendiri.

Hal yang paling sulit terlupakan adalah terbatasnya peralatan untuk membuat abon ikan, dimana pada saat itu untuk mengepres ikan masih menggunakan kain terigu. Semua dikerjakan  dengan menggunakan tenaga manual pasangan ini,

Namun, seiring berjalanya waktu bertahun-tahun membuat abon ikan dengan peralatan yang sederhana, semesta pun mendukung. Bantuan peralatan yang lebih baik dan modern dari dinas perindustrian sangat membantunya.

Selama bertahun-tahun pasangan ini menikmati prosesnya dengan telaten dan sabar. Kerja keras dan konsistensi mengantarnya bertahan hingga kini.

Keduanya tentu sudah bisa tersenyum kini, produk olahannya semakin hari semakin terkenal. Tak hanya di Papua atau sudah merambah ke semua daerah di Indonesia.

Proses produksi abon ikan

Usaha abon ikan Madurasa memproduksi 2 jenis rasa yaitu pedas dan original.

Harga jual awal per kemasan 200gram yaitu Rp. 48 000 Pedas dan Rp. 45.000 Biasa. Dalam sebulan usaha ini melakukan 3 kali produksi dimana setiap produksi rerata menghasilkan pedas 88 bungkus dan original 75 bungkus.

Bahan baku yang dikeluarkan perproduksi untuk yang pedas yaitu Rp. 997.420 dan original Rp. 815.580 untuk kemasan, pedas Rp 264.000 dan original Rp. 225.000 serta biaya overhead pedas Rp. 413.000 dan original Rp. 352.000. Adapun laba penjualan sekali produksi untuk pedas menghasilkan Rp.2.548.580 dan original Rp. 1.983.000.

Namun, kenaikan BBM dan harga bahan baku, ikut menaikan sekitar 4% biaya produksi. Sehingga, harga jual naik sebesar Rp.55.000 pedas dan Rp. 50.000 Biasa.

Kalangan Pembelipun banyak yang datang dari instansi untuk dijadikan oleh-oleh/souvenir ke rekan kerja atau keluarga yang berada di luar Manokwari.

Bantuan Kerjasama

Usaha ini telah dikenal oleh beberapa instansi pemerintah dan swasta. Sehingga, usaha ini diikutsertakan dalam beberapa kegiatan seperti pameran ke luar Papua, pelatihan dan bantuan usaha oleh pihak perbankan, dan sekarang oleh taspen sebagai wirausaha di Papua barat.

Sedangkan, pendampingan sementara diberikan oleh Kementerian Pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi melalui kegiatan PPPUD yang diterima oleh Tim Universitas Papua sejak tahun 2020 sampai sekarang.

Bantuan yang diberikan PPPUD Universitas Papua berupa pendampingan produksi, keuangan, pemasaran dan perpanjangan legalitas.

Terkait produksi, sejak PPPUD produk abon ikan tuna madurasa yang awalnya hanya produksi rasa original, bertambah menjadi rasa pedas yang diminati banyak konsumen.

Pendampingan pemasaran, dibantu untuk memasarkan keluar manokwari dan keluar papua. Diikutkan ssebagai souvenir pada kegiatan bekal pemimpin yang diikuti oleh banyak peserta dari seluruh Indonesia.

The post Cerita Sepasang Suami Istri Pencetus Usaha Abon Ikan Tuna di Manokwari appeared first on Klik Hijau.