Cermati, Barang Sehari-harimu Bisa Jadi Mengandung Sampah B3!

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong masyarakat berinisiatif mengganti barang-barang berpotensi menghasilkan sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Tanpa masyarakat sadari, sampah B3 yang memenuhi lingkungan sekitar membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

Barang-barang sehari-hari yang biasa masyarakat gunakan seperti lampu, baterai, penyemprot nyamuk, pengharum ruangan hingga penggorengan atau wajan berpotensi menghasilkan sampah berbahaya dan beracun ini.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, sampah B3 tergolong permasalahan krusial dan menjadi perhatian pemerintah. Saat ini ada sejumlah aturan terkait sampah B3. Di antaranya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan B3.

Berbeda dengan limbah B3 yang industri hasilkan, sampah B3 sangat dekat dengan lingkungan sekitar. “Berbeda dengan limbah B3 yang memang berasal dari limbah industri yang memang toksik. Kalau sampah B3 toksiknya sedikit tapi jumlahnya banyak dan bersifat akumulatif. Sehingga ini menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan manusia,” katanya dalam talkshow B3 dalam Kehidupan Kita, Selasa (26/7).

Vivien menyatakan, pentingnya sosialisasi dan edukasi lebih lanjut kepada masyarakat agar mengetahui tentang bahaya dan ancaman sampah ini. Termasuk, mendorong masyarakat agar selektif dalam memilih produk yang tak mengandung B3 dengan membaca label kemasan.

Selain itu, ia juga mendorong agar masyarakat tak membuang sampah B3 sembarangan, termasuk ke lingkungan. Kerja sama yang solid antara masyarakat dan pemerintah daerah sangat krusial untuk menangani sampah ini.

“Kita dorong pemda menyiapkan drop box-drop box agar masyarakat bisa mengumpulkan sampah B3nya lalu baru dibawa ke pengolah B3,” ucap Vivien.

Bahan dan Sampah B3 Ada Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pakar Ekotoksikologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani mengungkapkan, bahan dan sampah B3 ada dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya penggunaan obat nyamuk bakar yang mengandung dichlorovynil dimethyl phosfat (DDVP), prpooxur (karbamat) dan diethyltoluamide. Adapun kandungan ini tak hanya dapat membunuh nyamuk, tapi bisa mencemari lingkungan.

“Obat nyamuk itu nanti kan asapnya ke udara, lalu terjadi deposisi kering sehingga akan ditarik oleh gravitasi bumi dan akan jatuh juga ke tanah,” imbuhnya.

Demikian pula pada penggunaan obat kutu yang mengandung Lindane. Kandungan ini tak sekadar mematikan kutu, tapi ketika setelah keramas Lindane terbawa air dan mencemari lingkungan.

Penggunaan pestisida pada sektor pertanian juga menimbulkan racun, baik racun kontak maupun yang bersifat sistemik. Etty menyebut risiko racun kontak lebih ringan daripada sistemik. Salah satunya masuk peredaran darah manusia dan mengancam organ-organ dalam tubuh, seperti kanker hingga penyakit degeneratif lainnya.

Bahkan, kandungan B3 bisa ada pada peralatan make up dan skincare mengandung merkuri. Dalam jangka pendek merkuri membuat kulit lebih bersih. Tapi dalam jangka waktu panjang dapat memicu kanker kulit.

Plt Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) Agus Haryono berpendapat, ada sejumlah aspek yang perlu jadi perhatian ketika ingin mengganti produk B3.

Misalnya saja, tingkat keterjangkauan harga, efektivitas manfaatnya, sosialisasi serta edukasi dalam masyarakat. “Misalnya pada penggunaan lampu LED pengganti lampu pijar yang mengandung merkuri.

Selain lampu LED lebih efisien dalam penggunaan listriknya juga lebih tahan lama. Artinya sudah memenuhi aspek, seperti lebih ekonomis dan efektif dibanding lampu pijar,” tuturnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin