Di Indonesia Masih Ada Cat Bertimbal, Arsitek Harus Tolak!

Jakarta (Greeners) – Cat yang beredar di Indonesia masih ada yang mengandung timbal. Padahal paparan cat bertimbal itu berdampak buruk bagi kesehatan. Untuk terus mengedukasi masyarakat akan bahaya pemakaian cat bertimbal, pemerintah membutuhkan dukungan pelaku sektor infrastruktur salah satunya arsitek.

Analis Kebijakan di Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Andriati Cahyaningsih mengatakan, edukasi dan sosialisasi kepada konsumen terkait produk-produk cat berbahan timbal sangat penting.

“Permintaan dari konsumen ini terkait dengan pengetahuannya. Apakah mereka sadar atau tidak terkait kualitas, kegunaan dan dampak cat tersebut. Tentu kalau kita bisa mendorong mereka akan menjadi tuntutan bagi industri juga untuk menekan produk ini,” katanya dalam Forum Diskusi Asik Bareng Arsitek, baru-baru ini.

Kemenperin dalam hal ini memiliki kewenangan untuk membina produsen mengampanyekan format bangunan hijau atau green building dengan mengedepankan asas keberlanjutan.

“Salah satu konsep bangunan hijau adalah pengurangan timbulan zat beracun yang tidak baik bagi kesehatan dan lingkungan. Dalam hal ini termasuk dengan penggunaan cat yang bebas timbal,” ucapnya.

Kebutuhan Cat di Indonesia Mencapai 22 Triliun Per Tahun

Indonesia merupakan salah satu pasar cat dan pelapis terbesar di Asia dan perkiraannya akan terus meningkat. Kebutuhan cat di Indonesia saat ini bisa mencapai Rp 22 triliun per tahun. Lebih dari 130 pabrikan cat beroperasi di Indonesia baik perusahaan lokal maupun penanaman modal asing.

Nexus3 Foundation bersama International Pollutants Elimination Network (IPEN) pada Oktober 2021 merilis laporan, 73 % cat dekoratif yang pedagang jual di Indonesia memiliki kandungan timbal di atas batas aman 90 ppm.

Selebihnya hanya 27 % yang memiliki konsentrasi timbal di bawah 90 ppm. Sampel cat yang mereka teliti adalah warna-warna cerah yang sering masyarakat gunakan terutama di fasilitas anak-anak, seperti taman bermain, sekolah dan mainan.

Sektor infrastruktur, arsitektur dan interior merupakan sektor yang sangat dekat dengan penggunaan cat. Sayangnya informasi terkait bahaya timbal yang mengintai pada penggunaan timbal belum banyak masyarakat ketahui.

Inisiator KOMPAK Robby Dwiko Juliardi menyatakan, arsitek menjadi penentu atas semua keputusan tersebut. Timbal, sambung dia menjadi bagian kecil dari material-campur produk finishing pewarna yang sangat berimbas dampak buruknya.

“Negara lain sudah melarang penggunaannya, mengapa di Indonesia masih begitu marak digunakan? Apakah memang tuntutan cepat kering dan warna-warna yang mencolok masih menjadi prioritas bagi masyarakat?,” ucapnya.

Ia menekankan, sudah saatnya edukasi dan advokasi terkait timbal diberikan secara progresif untuk para arsitek dan masyarakat. Tujuannya agar mereka tahu manfaat dan dampaknya.

33 Juta Anak Berpotensi Terpapar Cat Bertimbal

Toxic Program Office Nexus3 Foundation Sonia Buftheim menyatakan, praktisi profesional di bidang arsitektur menjadi sektor terdepan memastikan cat aman dan bebas dari racun timbal.

“Adanya permintaan cat bebas timbal akan turut mendorong produsen segera memproduksi cat bebas timbal. Pemerintah segara membuat aturan ketat terkait pelarangan penggunaan timbal dalam cat,” tegasnya.

Tahun 2013 National Institute of Health (NIH) Amerika Serikat memperkirakan biaya ekonomi dari paparan timbal pada masa kanak-kanak di Indonesia sekitar US$ 37,9 miliar per tahun.

Selanjutnya, perkiraan kerugian kumulatif 16 juta poin IQ dikaitkan dengan keberadaan cat timbal di Indonesia. Saat ini, populasi berisiko adalah sekitar 33 juta anak atau sekitar 12,2 % dari total populasi.

Biaya ekonomi tahunan kerugian akibat cat bertimbal sebesar US$ 37,9 miliar tidak ada artinya jika dibandingkan dengan total pasar cat dekoratif dan pelapis di Indonesia yang perkiraanya mencapai US$ 1,86 miliar.

Dengan kata lain, kerusakan dari cat bertimbal melebihi total pendapatan industri lebih dari 20 kali lipat. Produsen cat yang ramah lingkungan berkontribusi mendukung Indonesia mencapai target tujuan pembangunan berkelanjutan. Terutama target 3.9 tentang kesehatan bagi semua dan target 12.4 tentang sustainable consumption and production.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin