Hari Bumi: Jangan Lupakan Laut yang Erat dengan Perubahan Iklim

Jakarta (Greeners) – Mengusung tema “Invest in Out Planet”, peringatan Hari Bumi pada 22 April lalu tak sekadar menjadi momentum untuk meningkatkan untuk berinvestasi pada bumi sumber kehidupan. Keberlanjutan laut juga harus menjadi perhatian, karena punya pengaruh terhadap perubahan iklim.

Science and Technology Officer U.S Embassy Jakarta Alison Behling mengatakan, laut telah berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Terutama Indonesia sebagai negara kepulauan. Jangan sampai, karena krisis iklim maka kesehatan laut terganggu.

“Kesehatan laut berada di bawah ancaman dampak gas rumah kaca, termasuk naiknya permukaan laut, pemanasan laut dan pengasaman laut,” katanya dalam konferensi pers virtual Special Conversation for Earth Day, Jumat (22/4).

Minggu lalu, Indonesia terlibat dalam Our Ocean Conference ke-7 dan Palau menjadi tuan rumah acara tersebut. Mengangkat tema “Our Ocean, Our People, Our Prosperity”, konferensi tersebut menghasilkan komitmen nyata dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, antar pemerintah serta industri untuk mencari terobosan permasalahan lautan global.

“Seperti yang dibahas di Our Ocean Conference, untuk melindungi kesehatan laut dan lingkungan maka kita harus menjaga kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius,” ungkapnya.

Alison menyatakan, saat ini merupakan momen yang tepat bagi Indonesia dalam memimpin aksi untuk perubahan iklim global. Terlebih mengingat kuatnya kemitraan Amerika Serikat bersama Indonesia.

Momen peringatan Hari Bumi ke-52 harus diiringi dengan peningkatan kesadaran tentang pentingnya masalah lingkungan. Termasuk, perubahan iklim dan pengurangan polusi. Selanjutnya keanekaragaman hayati dan konservasi ekosistem dan melindungi lautan dan perairan di seluruh dunia.

Hari Bumi Ingatkan Jalan Baru Hadapi Perubahan Iklim

Sementara Direktur Kantor Lingkungan Hidup Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Indonesia, Brian Dusza menyatakan, strategi perubahan iklim telah USAID lakukan dengan target pengurangan enam miliar ton karbon dioksida. Selain itu juga melindungi 100 juta hektare hutan kritis.

Selanjutnya memanfaatkan US$ 150 miliar dari sektor swasta untuk membantu 500 juta orang beradaptasi dampak perubahan iklim. “USAID meluncurkan strategi perubahan iklim baru untuk tahun 2022 – 2030. Ini adalah strategi pertama USAID sejak 2018 dan ini sangat ambisius,” imbuhnya.

Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Mars Inc. dan Institute for Development Impact (I4DI) mengumumkan investasi bersama hingga senilai US$ 7,2 juta (setara Rp 103 miliar). Investasi bersama ini untuk meningkatkan profitabilitas dan keberlanjutan industri kakao Indonesia.

Hal tersebut dapat meningkatkan pengelolaan sumber daya air untuk mengatasi kekeringan dan melindungi tanaman asli sebagai penyimpanan karbon. Peningkatan pertanian kakao ini bisa berjalan seiring dengan penurunan emisi gas rumah kaca.

Brian menceritakan dalam kunjungannya ke perkebunan sawit di Kalimantan Barat, ia melihat pentingnya memastikan konservasi perlindungan hutan. Terutama sebagai habitat orang utan di sana.

“Setelah menelusuri dan melihat induk dan bayi orang utan di habitat aslinya itu menginspirasi harapan dan keinginan untuk langkah ini,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin