Kerajaan Inggris: Mengapa Charles sudah menjadi raja sebelum penobatan dan apa saja agenda mendatang selepas kepergian Ratu Elizabeth II?

Inggris sedang berkabung atas meninggalnya Ratu Elizabeth II – ia berpulang pada usia 96 tahun. Kepergian Elizabeth II telah menimbulkan berbagai pertanyaan dan rasa penasaran dari masyarakat internasional, termasuk di Indonesia, mengenai proses konstitusional terkait transisi takhta Kerajaan Inggris ke putra sulungnya, Raja Charles III.

Berikut adalah momen-momen penting yang akan dilalui oleh Kerajaan Inggris, sekaligus menjadi perhatian masyarakat seluruh dunia, dalam beberapa hari ke depan.

Kapan Charles akan menjadi raja?

Berdasarkan aturan hukum umum (common law) Rex nunquam moritur, yang berarti “raja tidak pernah mati,” Charles langsung menjadi raja setelah Ratu Elizabeth II meninggal. Tujuannya agar pemerintahan segera dan tetap berlanjut meskipun seorang raja atau ratu meninggal dunia.

Oleh karena itu, takhta kerajaan secara otomatis turun kepada pewarisnya walaupun upacara penobatan belum resmi dilaksanakan.

Upacara penobatan pasti akan menyusul, tetapi tujuannya hanyalah untuk mengukuhkan atau meresmikan proses yang pada dasarnya sudah terjadi. Charles tidak perlu menunggu proses pemahkotaan untuk menjadi raja.

Bahkan, Raja Edward VIII, yang bertakhta hanya selama Januari-Desember 1936, tidak pernah dimahkotai maupun melalui upacara penobatan.

Prosedur formal apa saja yang akan diikuti Charles?

Suatu Dewan Aksesi Inggris (Accession Council) akan segera dipanggil setelah kematian seorang raja atau ratu. Dewan Aksesi tersebut – terdiri dari bangsawan, tokoh politik dan keagamaan, anggota keluarga inti kerajaan, Perdana Menteri (PM), anggota kabinet, serta Uskup Agung Canterbury – kemudian secara resmi mengumumkan kematian penguasa dan awal pemerintahan penguasa berikutnya.

Proses ini mencakup dua pertemuan.

Pada pertemuan pertama, para anggota Dewan Penasihat (Privy Council) – salah satu bagian tertua dari pemerintah – akan berkumpul bersama Komisaris Tinggi dari negara-negara Persemakmuran, untuk menyetujui dan menandatangani Proklamasi yang menyatakan Charles sebagai Raja sekaligus kepala negara mereka yang baru.

Elizabeth dan Charles di Parlemen.
Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles menghadiri pembukaan parlemen kenegaraan pada tahun 2019.
Flickr/UK Parliament, CC BY-NC

Dewan kemudian menerbitkan Proklamasi yang menyatakan kenaikan takhta yang sah oleh penguasa baru, dan kemudian mengumumkan gelar resminya, yakni Charles III.

Pertemuan kedua hanya akan dihadiri oleh Charles dan beberapa anggota Dewan Penasihat.

Pada pertemuan ini, Charles akan menyampaikan pernyataan pribadi untuk memperingati mendiang Ratu dan meminta dukungan negara dalam mengemban peran barunya, serta bersumpah secara hukum untuk mendukung Gereja Skotlandia. Charles juga akan membuat sumpah serupa untuk mendukung Gereja Inggris pada upacara penobatannya.

Apa yang terjadi di parlemen?

Parlemen melakukan pertemuan sesegera mungkin setelah kematian seorang raja atau ratu untuk menyatakan sumpah setia mereka kepada penguasa baru. Sumpah ini merupakan persyaratan bagi para anggota Dewan Bangsawan (House of Lords) dan ditentukan dalam peraturan tetap mereka.

Di sisi lain, anggota parlemen di Dewan Rakyat (House of Commons) tidak punya kewajiban resmi untuk bersumpah kepada seorang raja atau ratu baru karena mereka secara otomatis dianggap telah bersumpah. Sumpah mereka adalah untuk “sepenuhnya setia kepada Yang Mulia Ratu Elizabeth II, ahli warisnya, dan penerusnya.” Meski demikian, para anggota Dewan Rakyat secara tradisi biasanya tetap menyatakan sumpah setia pada penguasa baru.

Parlemen kemudian akan memasuki masa berkabung atas meninggalnya Ratu, dipimpin oleh PM.

Kapan Charles akan dinobatkan sebagai Raja?

Proses penobatan Raja Charles III mungkin akan berjalan beberapa bulan setelah prosesi pemakaman Elizabeth II. Upacara akan berlangsung di Westminster Abbey, London, – dan kemungkinan diikuti kemunculan keluarga kerajaan secara bersamaan di balkon Istana Buckingham untuk menyapa publik.

Secara keagamaan, prosesi penobatan kerajaan Inggris mengadaptasi pelayanan Anglikan dan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Canterbury, uskup paling senior di Gereja Inggris. Namun, bisa jadi pimpinan agama-agama lain juga akan ikut serta dalam prosesi ini. Hal ini terjadi pada pernikahan Pangeran Harry dan acara pelayanan tahunan Hari Persemakmuran di Westminster Abbey.

Perwakilan pemeluk dari agama-agama yang berbeda dapat diundang untuk memberikan doa. Para pemimpin agama selain Anglikan juga kemungkinan akan mendapat posisi kursi yang penting pada upacara di Westminster Abbey. Pemerintah yang akan menentukan daftar tamu dan menanggung seluruh biaya upacara tersebut.

Apakah Camilla akan menjadi ratu?

Aturan hukum Kerajaan Inggris menyatakan bahwa istri seorang raja secara otomatis akan menjadi seorang ratu. Tapi kali ini ada keraguan karena kontroversi pernikahan Charles dengan Camilla pada tahun 2005. Saat itu, Kerajaan memutuskan bahwa Camilla akan menjadi “princess consort” (putri permaisuri), bukan “queen consort” (ratu permaisuri) jika Charles menjadi raja.

Namun demikian, kemungkinan besar ada perubahan keputusan karena kita tahu bahwa Camilla sudah disebut-sebut akan menjadi seorang ratu. Ratu Elizabeth II sendiri yang mengonfirmasinya pada awal tahun ini.

The Conversation

Robert Hazell adalah Profesor Pemerintahan dan Konstitusi, dan pendiri Constitution Unit di University College London. Dia adalah co-editor The Role of Monarchy in Modern Democracy.