KTT G20 Momentum Pengembangan PLTS

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM – Kepala Riset APAC, BloombergNEF Ali Izadi -Najafabadi menyatakan optimismenya bahwa Indonesia mampu mempercepat transisi energi dalam waktu dekat. Hal itu ia ungkapkan saat menjadi pembicara pada lokakarya yang mendorong penerapan tenaga surya yang relevan seiring pertemuan negara-negara G20. Di pertemuan itu (KTT G20), Indonesia mengusung transisi energi sebagai topik utama.

Menurutnya, Indonesia perlu menunjukkan kepemimpinan yang terbaik dalam mengejar kapasitas energi terbarukan yang lebih masif, khususnya energi surya. Sebelumnya, beberapa analis mengatakan Indonesia tertinggal dari negara-negara G20 lainnya dalam energi terbarukan, terutama PLTS.

“Tapi saya yakin Indonesia bisa mengejar. Ada banyak peluang untuk mereformasi kebijakan atau langkah-langkah regulasi khusus dengan fokus pada peningkatan ekonomi energi dan lingkungan,” kata Ali.

Senada dengan itu, Senior Associate untuk Pembiayaan Energi Surya di Bloomberg NEF Rohit Garde mengatakan bahwa BloombergNEF mengukur kebijakan negara di sektor listrik dan kebijakan karbon.

Jerman dan Inggris dengan skor masing-masing 84% dan 83% yang mengindikasikan bahwa kedua negara itu mempunyai kebijakan yang baik untuk PLTS. Sementara itu, Levelized Cost of Electricity (LCOE) PLTS di India, China, UEA, dan Chili adalah yang terendah karena tingkat radiasi surya yang tinggi dan pengembangan PLTS skala besar.

Sedangkan LCOE PLTS di Indonesia termasuk yang tertinggi karena skalanya yang kecil dan biaya modal yang tinggi. “Indonesia harus meningkatkan ambisinya dengan merevisi regulasi dan menghilangkan hambatan pembangunan,” ungkap Garde.

Pada kesempatan itu, Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Yudo Dwinanda Priadi menegaskan bahwa rencana pembangunan pembangkit tenaga surya sudah tercakup dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. RUPTL yang lebih hijau merupakan landasan untuk mencapai nol karbon pada tahun 2060.

“Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki optimasi terbesar di Indonesia, dan akan mencapai 4.680 MW pada tahun 2030. Energi surya memiliki potensi paling melimpah,” ungkap Yudo.

Selain itu, biayanya terus menurun, dan perkembangan teknologi PLTS yang pesat menjadikan pembangkit listrik tenaga surya sebagai prioritas. Lebih jauh, dia mengatakan, pengembangan PLTS atap juga mencakup implementasi dan insentif yang lebih baik bagi masyarakat yang ingin memasang PLTS atap.

“Pemerintah telah menerbitkan Permen ESDM No.26/2021, dan peta jalan PLTS atap sedang dalam proses sebagai Program Strategis Nasional (PSN),” jelasnya.

Direktur Eksekutif IESR dan Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa justru melihat perkembangan energi surya di Indonesia terkesan lambat dengan beberapa kendala.

“Pada tahun 2021, potensi teknisnya hanya 0,001 persen yang terimplementasi. Namun, pembangkit listrik tenaga surya atap terus meningkat dalam tiga tahun terakhir dan itu karena adanya dukungan dari peraturan pemerintah,” paparnya.

Hadirnya RUPTL 2021 merupakan sinyal untuk menambah lima kali lipat menjadi 4,7 MW, dan ada juga proyek lain seperti ekspor ke Singapura, Kepulauan Riau, dan Batam. “Proyek ini memiliki potensi untuk pengembangan energi surya secara besar-besaran,” ungkap Fabby.

Fabby juga menambahkan beberapa alasan kendala transisi energi di Indonesia seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Permasalahan dalam pengembangan proyek seperti pertanahan dan peraturan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN); proyek-proyek yang ada membutuhkan perangkat modul surya dari 40% hingga 60%, dan ini belum dipenuhi oleh industri di Indonesia dan belum mendapat bantuan dana dari negara; negosiasinya cukup panjang sementara negara lain cenderung lebih cepat,” terangnya.

Berbeda dengan Vietnam yang memiliki kemauan dan komitmen politik yang kuat, negara itu telah memiliki regulasi, implementasi, dan insentif untuk kebijakan tarif terkait net metering. Kebijakan itu telah digagas secara matang.

“Di Indonesia, yang juga penting adalah kepastian kebijakan dan transmisi Perusahaan Listrik Negara (PLN),” ujarnya.

Akselerasi Indonesia

Senior Business Developer dari Mainstream Renewable Power Kanaka Arifcandang Winoto menekankan tentang pentingnya akselerasi Indonesia untuk memenuhi target bauran energi terbarukan 2025 sebesar 23%.

“Indonesia adalah konsumen energi terbesar di ASEAN, terhitung hampir 40 persen dari total penggunaan energi ASEAN. Dengan potensi sumber daya surya, panas bumi, angin, dan tenaga air yang signifikan, Indonesia berada di posisi yang tepat untuk berkembang dalam sistem energi rendah karbon,” katanya.

Oleh sebab itu, menurut Kanaka, Indonesia merupakan pemain kunci dalam menahan kenaikan suhu 1.5ºC sehingga diperlukan  kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi peta jalan nasional dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan keamanan iklim.

Adapun parlemen menyatakan terbuka terhadap masukan dari masyarakat, utamanya terkait kebijakan energi terbarukan yang tengah dibahas di DPR RI. Hal itu diungkapkan oleh Dyah Roro Esti, Anggota DPR, Komisi VII.

“Data dari DEN, Indonesia harus mengoptimalkan 2,5 GW, dan setiap daerah memiliki potensi, baik matahari maupun angin. Oleh karena itu, perlu adanya motivasi dan kemauan politik untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan dan merealisasikan potensi tersebut,” kata Roro.

Kebijakan Di Daerah

Di sisi lain, menyangkut kebijakan di tingkat daerah, Ngurah Pasek, Kepala Sub Bagian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Daerah, Bappedalitbang Provinsi Bali, menambahkan bahwa Bali telah  menerapkan Perda 29 Tahun 2020 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang turunannya adalah Pergub 45 Tahun 2019 tentang Bali Clean Energy.

“Instalasi hingga kabupaten dan kota di Provinsi Bali yang saat ini sudah mencapai 8,5 MW. Target Pemprov Bali mengenai refocusing anggaran adalah bagaimana pemasangan PLTS atap (solar rooftop) di perkantoran atau perusahaan dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Pengembangan PLTS atap juga terjadi di Jawa Tengah. Nathan Setyawan, Sub-Koordinator Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah menjelaskan beberapa kemajuan dalam dukungan energi terbarukan di daerahnya.

“Jawa Tengah adalah satu-satunya provinsi yang telah mengembangkan dan mengintegrasikan pemulihan ekonomi dan penggunaan energi terbarukan. Pada 2021, kami akan mendorong tidak hanya pemerintah provinsi tetapi juga bupati dan walikota dan sektor swasta untuk penerapan PLTS atap.”

Ia menegaskan, peningkatan kesadaran masyarakat dan dukungan Kementerian ESDM akan mendorong pemanfaatan PLTS komunal di daerah terpencil. Selain itu, ketersediaan teknologi pendukung energi bersih yang terjangkau dipastikan akan membantu pembangunan industri energi terbarukan lokal.

“Harapannya akan ada lembah silikon mini untuk mengembangkan industri berorientasi energi baru terbarukan,” tandasnya. (Jekson Simanjuntak)