LSM Platform Pelajari Perubahan Iklim Lewat Ponsel

Jakarta (Greeners) – Girls Leadership Academy (GLA) bekerja sama dengan Tim Humanitarian Resilience Program Plan Indonesia meluncurkan Learning Management System (LMS) GLA on Climate Change sebagai platform belajar seputar perubahan iklim.

LMS ditujukan bagi para pemuda dan perempuan. Platform ini dapat masyarakat akses dengan mudah melalui browser yang ada dalam ponsel (handphone), tablet maupun komputer masing-masing.

Girls Leadership Academy Manager Plan Indonesia, Guster Sihombing menyebut, platform ini hadir dengan metode belajar mengenai perubahan iklim sambil bermain.

“Tentunya kita akan belajar sambil bermain. Melalui LMS ini tidak hanya akan ada penjelasannya. Tapi juga menonton video animasi yang menjelaskan apa itu perubahan iklim,” ungkapnya baru-baru ini.

LMS menyediakan delapan topik pembelajaran, seperti pengantar perubahan iklim, dampak perubahan iklim, bencana terkait iklim. Selain itu juga peran kaum muda terutama perempuan dalam perubahan iklim, pemetaan kerentanan iklim, dan cara kita beradaptasi, pengenalan gender dan inklusi serta save guarding di dunia digital.

Platform pembelajaran mengenai perubahan iklim ini juga akan memberikan materi penjelasan berupa video gambar ilustrasi dan kuis aktivitas.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti berharap, ke depannya semakin banyak peserta yang belajar mengenai perubahan iklim melalui platform LMS ini.

“Harapannya terhadap learning management system ke depannya yaitu lebih banyak lagi ya. Kalau sekarang sudah tiga batch dan rata-rata satu batch itu sekitar 75 orang,” tuturnya.

Generasi muda peduli perubahan iklim

Generasi muda harus ikut mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Platform Edukasi Pemuda dan Perempuan

Direktur Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo mengungkapkan, hingga 16 September 2022, bencana yang telah terjadi di Indonesia sebanyak 2.853 kali.

Dari jumlah tersebut, hampir 98 persennya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan angin puting beliung. Selain itu BNPB juga mencatat ada sekitar 53.000 desa dan kelurahan di Indonesia yang termasuk daerah rawan tinggi dan sedang bencana.

“Jadi ini yang mendasari kenapa bencana hidrometeorologi itu dapat terjadi salah satunya karena terpengaruhnya tinggi akan perubahan iklim,” jelasnya.

Dengan latar belakang tersebut, Pangarso berharap platform LMS bagi para pemuda dan perempuan ini dapat mengedukasi sekaligus melakukan berbagai aksi terkait perubahan iklim.

Captain River Warrior Indonesia Thara Bening menuturkan, pembelajaran mengenai krisis iklim penting bagi para pemuda sebagai bekal untuk menghadapi kondisi yang akan terjadi di masa depan.

Platform ini akan sangat membantu untuk kita karena telah menyediakan wadah untuk anak muda belajar krisis iklim. Karena nantinya di masa depan akan mewarisi dan merasakan dampak dari krisis iklim. Sehingga perlu membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan seperti ini,” katanya.

Penulis : Fitri Annisa

Editor : Ari Rikin