Membongkar fenomena “klitih” di kota pelajar: benarkah kini #YogyaTidakAman?

Aksi kekerasan jalanan menggunakan senjata tajam, atau yang kerap disebut klitih di Yogyakarta, kembali ramai terjadi di kota pelajar pada awal tahun ini.

Sejumlah akun di Twitter, misalnya, mengungkapkan pengalaman mereka menjadi korban klitih saat berkendara pada malam hari.

Maraknya kasus klitih di Yogyakarta bahkan sempat membuat tagar #YogyaTidakAman menjadi salah satu topik teratas di Twitter Indonesia.

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) mencatat kenaikan tren klitih menjadi 58 kasus pada 2021, dari yang sebelumnya 52 kasus pada 2020.

Beberapa pihak juga mengkritik Gubernur DIY yang dianggap tidak serius menangani masalah yang telah lama terjadi di Yogyakarta ini.

Sri Sultan Hamengku Buwono X belum lama ini mengeluhkan tantangan pendanaan dalam penanganan klitih hingga kekhawatiran menurunnya tingkat pariwisata di Yogyakarta.

Untuk membongkar fenomena klitih, dalam episode podcast SuarAkademia kali ini, kami ngobrol dengan Elanto Wijoyono dari Combine Resource Institution (CRI), lembaga yang mengkaji jaringan informasi dan komunikasi berbasis komunitas di Yogyakarta.

Joyo menjelaskan sejarah kekerasan jalanan di Yogyakarta, belum efektifnya respons pemerintah dan kepolisian daerah dalam menangani klitih, hingga dinamika ekonomi dan pembangunan yang turut berkontribusi pada keresahan sosial di kota tersebut.

Simak episodenya di SuarAkademia – ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi dan peneliti.

The Conversation