Riset: bagaimana _self-help book_ membangun sosok muslimah yang “ideal” di Indonesia

Tom Hermans dari Unsplash, CC BY

Seiring dengan meningkatnya popularitas sastra pop Islami dan semakin terfragmentasinya otoritas keagamaan Islam di Indonesia, banyak anak muda muslim yang beralih pada buku pengembangan diri bertema Islam sebagai pegangan hidup mereka.

Penelitian kami, yang masih dalam proses tinjau ulang untuk terbit di sebuah jurnal, menemukan bahwa buku-buku tersebut cenderung mendorong peran perempuan muslim sebagai sosok istri yang patuh dan setia pada suami, juga ibu yang berdedikasi bagi anak-anaknya, namun pada saat yang sama juga sebagai individu yang produktif secara ekonomi.

Jika melakukan peran tersebut maka penghargaan berupa surga, pahala dan berkah Tuhan akan diterima, jika tidak, maka hukuman berupa dosa dan murka Tuhan akan menjadi ganjarannya.

Temuan kami ini menunjukkan perubahan konsep perempuan ideal di Indonesia selepas masa Orde Baru. Sebelumnya, pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto menggarisbawahi bahwa konsep perempuan ideal adalah ibu yang mengasuh anaknya dengan baik dan istri yang patuh pendamping suami. Konstruksi ini banyak mendapat tentangan dari pendukung emansipasi perempuan dan kesetaraan gender.

Saat ini, semakin masifnya Islamisasi di tanah air membuat perjuangan politik gender semakin kompleks. Penafsiran yang berbeda dari berbagai teks Islam oleh banyak kelompok digunakan untuk membenarkan konsep mereka tentang perempuan ideal.

Buku pengembangan diri

Buku-buku pengembangan diri tentang pernikahan yang berlatar Islam ini adalah bagian dari gerakan hijrah yang berkembang di kalangan anak muda muslim Indonesia pada masa pasca Orde Baru. Gerakan ini mengilhami sebuah transformasi diri untuk menjalani apa yang mereka yakini sebagai sebuah gaya hidup Islami.

Beberapa penulis buku ini adalah tokoh penting dalam gerakan tersebut, seperti Felix Siauw, La Ode Munafar, dan Abdul Somad.

Dalam penelitian ini, kami memilih sejumlah buku pengembangan diri terkait pernikahan dan menemukan bagaimana buku-buku tersebut membimbing kaum muda muslim dalam membangun pernikahan yang diberkati sampai jannah (surga). Hal ini dapat dicapai antara lain dengan melakukan peran perempuan yang setia dan patuh pada suami dan menjadi ibu yang sempurna bagi anaknya, sambil tetap produktif secara ekonomi.

Buku-buku tersebut termasuk karya Felix Siauw Udah Putusin Aja (Hanya Putus!), karya-karya La Ode Munafar seperti Indonesia Tanpa Pacaran, Cinta Onde-Onde, Hati-hati Muslihat Lelaki, Calon Umi Shalehah (ditulis bersama dengan istrinya, D.S. Apriani), serta Berani Nikah Takut Pacaran. Ada pula tulisan Abdul Somad berjudul Ustadz Abdul Somad tentang Wanita, dan tulisan Ahya Alfi Shobari berjudul Menjadi Istri & Suami Dambaan Surga.

Kami menemukan bahwa buku-buku ini mencoba memberdayakan perempuan muda muslim dalam lingkup nilai-nilai yang dianggap Islami.

Mereka percaya bahwa dengan menerapkan peran gender yang dianggap sesuai dengan ajaran Islam seperti di atas, Allah akan membalas mereka dengan berkah berupa cinta suami, keluarga yang bahagia, dan pada akhirnya, mereka akan mendapatkan kunci surga.

Peran perempuan di ruang publik dan kontribusi mereka terhadap pendapatan keluarga juga dihargai, akan tetapi hal-hal tersebut tidak serta merta menghasilkan relasi kuasa yang setara dengan suami mereka.

Dengan demikian, buku-buku tersebut menunjukkan kepada para pembaca muda muslim bahwa istri dan ibu yang baik adalah mereka yang menjaga kesalehan dan memiliki kemampuan bernegosiasi untuk melakukan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Perempuan muslim yang ideal

Buku-buku ini menyoroti nilai-nilai yang dianggap mencerminkan seorang perempuan muslim yang baik.

Peran yang paling ditekankan bagi perempuan muslim adalah yang terkait dengan reproduksi.

Buku-buku itu menunjukkan bahwa menjadi istri yang reproduktif dan pengasuh adalah tanggung jawab utama seorang perempuan.

Maka istri yang salehah inilah yang akan melahirkan anak-anak yang saleh. (Ustadz Abdul Somad tentang Wanita, p.16)

Buku lain juga menyebutkan:

Memelihara rumah dan menjalankan tugas-tugas rumah tangga adalah menjadi tanggung jawab wanita. (Menjadi Istri & Suami Dambaan Surga, p.106)

Karena para ibu juga bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, mereka diharapkan berpendidikan dan memiliki pengetahuan yang baik (The Perfect Istri Salehah, p.25).

Meski buku-buku ini menghargai partisipasi laki-laki dalam rumah tangga dan merawat anak, namun ditekankan juga bahwa hal-hal tersebut bukan kewajiban laki-laki; tanggung jawab utama mereka adalah menafkahi keluarga dan memberikan bimbingan bagi istri dan anak-anak mereka.

Adakalanya suami harus meluangkan waktu untuk sekadar meringankan tanggung jawab istri dalam mengurus rumah tangga dan pendidikan anak-anak. (The Perfect Istri Salehah, p.15)

Karena tidak ada kewajiban bagi laki-laki untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, suami yang bersedia melakukannya harus disemangati dan diberi pujian.

Kedua, seorang perempuan harus tahu cara berdandan dengan sempurna untuk membuat suaminya bahagia.

Berada di rumah setelah seharian bekerja, seorang suami memiliki hak untuk bersantai dan tidak perlu repot dengan pekerjaan rumah tangga.

Seorang istri shalehah adalah seorang perempuan yang bisa merawat dirinya sendiri sehingga bisa selalu terlihat menarik di depan suaminya (Menjadi Istri & Suami Dambaan Surga, p.103).

Selanjutnya, istri yang baik diwajibkan taat kepada suaminya. Berbakti kepada suami adalah perintah Allah:

… seorang istri wajib untuk memberikan ketaatan sepenuhnya pada suami dalam perintah yang ma’ruf. (Berani Nikah Takut Pacaran, p.162)

Gagasan yang sama juga disebutkan dalam buku lain:

Sudah menjadi kewajiban kamu (istri, red) melaksanakan segala perintah untuk taat kepada suamimu………(Menjemput Jodoh Impian, p.121)

Meskipun mempertahankan peran yang tunduk dan patuh kepada suami mereka, perempuan masih diperbolehkan untuk bekerja dan memiliki peran publik.

Namun, buku-buku ini menganjurkan agar mereka memilih karir yang tidak akan mengganggu peran utama mereka sebagai ibu di rumah, dan tidak akan merendahkan peran suami sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Mereka juga harus meminta izin terlebih dulu kepada suami:

Lantas bagaimana dengan istri apakah boleh bekerja? Boleh, asalkan mendapat izin dari suaminya. Dan bagaimana jika suaminya melarang bekerja? Maka istri harus resign dari tempat dia bekerja. (The Perfect Istri Salehah, p.15)

Dari kutipan-kutipan ini, kami menyimpulkan buku-buku ini menginspirasi pembacanya untuk meninggalkan apa yang mereka anggap liberal, termasuk peran gender yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, dan mengadopsi apa yang mereka anggap lebih Islami.

Mengislamkan peran perempuan Indonesia

Perempuan muslim Indonesia berjuang untuk menjadi sosok perempuan ideal.
John Crozier/Unsplash, CC BY

Konstruksi perempuan ideal yang dipromosikan dalam buku-buku pengembangan diri ini dapat digambarkan sebagai sebuah versi neo-ibuisme yang dianggap Islami.

Feminis Indonesia, Julia Suryakusuma, memperkenalkan istilah ibuisme negara untuk menggambarkan wanita ideal yang dibentuk oleh rezim Soeharto yang otoriter di Indonesia: pendamping setia suami, pereproduksi dan pendidik anak-anaknya, pengurus rumah tangga, dan anggota masyarakat Indonesia yang berguna.

Banyak yang menentang keterbatasan tersebut seiring dengan berkembangnya gerakan pemberdayaan perempuan. Perempuan-perempuan muslim feminis, misalnya, mengkritik subordinasi perempuan dan peran gender mereka di Indonesia.

Namun pada saat yang sama, ada kelompok-kelompok lain yang mencoba untuk mengembalikan _ ibuisme negara_ atau sedikit memodifikasinya agar terdengar baru dan relevan dengan perkembangan kontemporer gerakan pemberdayaan perempuan.

Neo-ibuisme, mengacu pada generasi baru ibu atau perempuan yang tetap mempertahankan fitur ibuisme negara, namun mereka juga menerima bahwa perempuan dapat menjadi produktif secara ekonomi dan aktif dalam politik.

Buku-buku pengembangan diri Islam tentang pernikahan ini dengan jelas mempromosikan versi Islami neo-ibuisme. Konstruksi perempuan ideal yang dipromosikan dalam buku-buku ini telah melemahkan advokasi para feminis muslim, yang menganjurkan bahwa kesetaraan gender tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

The Conversation

Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.