Startup Layanan Daur Ulang Sampah Octopus Dapat Pendanaan Rp74 M

Startup daur ulang sampah, Octopus , mengumumkan telah mendapat modal sebesar US$5 juta (sekitar Rp75 miliar) yang dipimpin oleh Openspace dan SOSV.

Startup yang menyediakan platform untuk memudahkan pengumpulan produk limbah dari konsumen dan mendaur ulangnya menjadi bahan baku-baru ini didirikan tahun lalu oleh lima orang teman, yakni Mohammad Ichsan, Hamish Daud, Niko Adi Nugroho, Rizki Mardian, dan Dimas Ario.

Baca juga: Peduli Lingkungan, Xiaomi Gandeng Octopus Daur Ulang Sampah Elektronik

Startup yang berbasis di Jakarta ini akan menggunakan dana tersebut untuk ekspansi agresif. Dana yang didapat akan digunakan termasuk untuk lima fasilitas pemilahan dan 1.700 pos pemeriksaan di empat kota yakni Jakarta, Bandung, Bali dan Makassar, dengan tujuan menangani 380 ton sampah, mulai dari plastik untuk peralatan elektronik setiap bulan.

Ichsan mengatakan salah satu alasan dia mendirikan Octopus adalah karena dia kembali ke rumah orang tuanya di Makassar untuk liburan, dan menemukan bahwa tempat pembuangan sampah yang berjarak 30 kilometer mengeluarkan bau busuk yang tak tertahankan, terutama mengingat dia memiliki seorang putri yang baru lahir.

“Saya bertanya-tanya dunia seperti apa yang akan dia tinggali,” katanya, dikutip dari TechCrunch, Kamis (7/7/2022).

Saat itu, ia bertemu bertemu dengan Hamish, yang memiliki keprihatinan yang sama dan telah melakukan penelitian tentang sampah laut.

Baca juga: Kini Bisa Karaokean di Spotify, Begini Caranya!

Octopus juga mengacu pada peraturan pemerintah Indonesia tentang pengumpulan sampah yang disebut sebagai 3R, atau “menggunakan kembali, mengurangi, dan mendaur ulang,” yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sampah plastik di lautan hingga 70%.

Pemerintah telah memperkuat tujuan ini dengan inisiatif seperti bank sampah, penegakan tujuan daur ulang untuk merek dan produsen, dan biaya kantong plastik untuk konsumen.

Foto: Octopus via TechCrunch

Octopus menawarkan dua jenis layanan utama, pertama adalah menjual bahan pasca-konsumen ke industri daur ulang dan yang kedua adalah pelaporan pengumpulan data untuk merek FMCG.

Misalnya seperti membantu pabrikan untuk mengumpulkan popok bekas dari konsumen dengan penanganan yang sesuai prosedur operasi standar dari pelestari.

(dwk)