Tidak hanya di tanah air, perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia juga dilakukan di Australia

Aksi dukungan kepada kemerdekaan Indonesia di Australia. Film “Indonesia Calling” oleh Joris Ivens

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia hampir selalu diidentikkan dengan meriam dan bambu runcing, tentara kemerdekaan rakyat yang bergerilya melawan pendudukan Belanda, atau kisah para elit-elit politik nasional. Semua ini tentu saja benar adanya.

Namun, tahukah kita bahwa sejarah kemerdekaan juga tidak lepas dari perjuangan warga Indonesia di luar negeri?

Di Australia, contohnya, melalui Central Komite Indonesia Merdeka (CENKIM), warga Indonesia di sana mati-matian mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, mulai dari menyebarluaskan perjuangan kemerdekaan melalui surat kabar sampai memboikot kapal-kapal dagang Belanda. Sayangnya, jasa mereka tidak banyak dibicarakan.

Tulisan ini akan membahas kiprah mereka, bersama dengan Serikat Pelaut Indonesia (Sarpelindo) dan beberapa organisasi serikat pekerja di Queensland, dengan menggunakan beberapa sumber arsip CENKIM yang tersimpan di Perpustakaan Fryer di University of Queensland, Australia.

Mengenal CENKIM dan Bondan: Corong perjuangan kemerdekaan Indonesia di Brisbane

Pada tahun 1942, banyak aktivis sayap kiri Indonesia yang diasingkan ke Australia sebagai akibat dari Perang Pasifik – ketika Jepang datang dan menguasai daerah Hindia Belanda.

Mereka yang diasingkan adalah para aktivis yang terlibat dalam perlawanan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintah Hindia Belanda tahun 1926-1927, dan sebagian lainnya merupakan aktivis Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Di antara mereka ialah Mohammad Bondan, aktivis yang aktif di PNI pada tahun 1920-an dan dekat dengan Mohammad Hatta – wakil presiden Indonesia pertama – dan Sutan Sjahrir.

Keterlibatannya dalam perlawanan tersebut membuatnya dibuang ke Boven Digul, Papua, bersama para aktivis pergerakan lain. Ia kemudian dipindahkan ke Australia pada awal 1943 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang waktu itu juga baru saja mengungsi ke Australia akibat pendudukan Jepang.

Karena statusnya sebagai tahanan politik, Bondan dianggap sebagai tahanan yang berbahaya dan berkali-kali dipindahkan oleh pemerintah Australia ke beberapa daerah terpencil hingga akhir Perang Dunia II.

Bondan awalnya ditempatkan di Cowra, New South Wales, bersama dengan ‘alumni Digul’ lain. Tidak berapa lama, ia dipindahkan ke Desa Helidon di Queensland, untuk bekerja di gudang penyimpanan amunisi militer Australia, sebelum akhirnya pindah ke Brisbane.

Di Brisbane, Bondan diminta oleh pemerintah Hindia Belanda di pengasingan untuk menerbitkan surat kabar bernama “Penjoeloeh” (artinya “Obor”). Koran itu dibuat sebagai media propaganda untuk menarik simpati warga Indonesia agar mau melawan pendudukan Jepang di akhir Perang Dunia II.

Namun, pada tahun 1945, datang telegram yang mengabarkan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 21 September 1945, bersama aktivis ‘alumni Digul’ lainnya yang berada di Brisbane dan Mackay, Bondan mendirikan Central Kemerdekaan Indonesia Merdeka (CENKIM), sebuah organisasi yang menjadi corong perjuangan kemerdekaan Indonesia di Australia.

CENKIM mulanya diketuai oleh Djamaluddin Tamin, mantan Sekretaris Sarekat Islam (SI) cabang Padang Panjang, Sumatera Barat, yang juga terlibat dalam perlawanan PKI.

Bondan saat itu menjabat Sekretaris CENKIM, dan keduanya banyak terlibat dalam aktivisme politik dan pergerakan warga Indonesia di Brisbane. Sebagai Sekretaris CENKIM, Bondan banyak menjadi penghubung antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia untuk urusan diplomasi.

Susunan Pengurus Central Kemerdekaan Indonesia (CENKIM), Brisbane, 1946. Sumber: Majalah Freedom, Edisi II tahun 1946.

Salah satu aktivitas CENKIM adalah menerbitkan majalah bernama “Freedom”, yang menjadi sebuah media propaganda yang cukup efektif untuk menyuarakan aspirasi kemerdekaan Indonesia di Australia.

Melalui majalah ini, CENKIM menerbitkan dokumen-dokumen dari Kementerian Penerangan RI, menerjemahkan tulisan-tulisan dari para pemimpin di Indonesia, serta menyiarkan kegiatan CENKIM. Semuanya diterbitkan dalam Bahasa Inggris. Selain itu, “Freedom” juga menghadirkan testimoni dan tulisan dari beberapa tokoh Brisbane yang mendukung kemerdekaan Indonesia, terutama beberapa tokoh dari Serikat Pekerja dan Partai Komunis Australia.

Terjemahan tulisan dari Drs. Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI, Sumber: Majalah Freedom, Edisi II, 1946.

Di organisasi inilah Bondan kemudian bertemu dengan pujaan hatinya, Molly Warner, seorang staf yang membantu aktivitas CENKIM di Brisbane. Molly dan Bondan kemudian pulang ke Indonesia untuk bekerja di Kementerian Luar Negeri Indonesia. Molly sendiri terlibat dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 dan banyak membantu penulisan pidato Presiden Sukarno.

Pemboikotan kapal Belanda di Pelabuhan Australia

Penerbitan majalah “Freedom” juga ditujukan untuk mendukung aktivitas perjuangan lain, yaitu gerakan memboikot kapal-kapal dagang Belanda yang bersandar di Pelabuhan Brisbane.

Pada akhir bulan September 1945, kru kapal dan pekerja Indonesia di Brisbane dan Sydney melakukan mogok kerja dan memboikot kapal-kapal Belanda yang akan mengangkut logistik untuk keperluan pendudukan Belanda di Indonesia. Para pekerja Indonesia tersebut bernaung di bawah payung Serikat Pelaut Indonesia (Indonesian Seamen Union/Sarpelindo).

Pemogokan disambut baik oleh para pekerja Australia. Pada 25 September 1945, tidak kurang dari 1.400 anggota Serikat Pekerja Pelabuhan di Brisbane mendukung secara resmi pemogokan ini dan menyatakan bahwa para perwakilan Pemerintah Belanda di Australia tidak boleh mengganggu jalannya pemerintahan yang baru saja dibentuk oleh rakyat Indonesia.

Sekitar 25 Serikat Pekerja lain di negara itu, di antaranya Serikat Pekerja Transportasi, Serikat Pekerja Pelaut, dan Serikat Pekerja Kelistrikan, juga menyatakan dukungan. Bahkan dukungan pun datang dari beberapa serikat pekerja dari latar belakang negara lain, seperti Serikat Pekerja Kelautan Melayu, Serikat Pekerja Pelaut India, dan Serikat Pekerja Pelaut Tionghoa.

Daftar Serikat Pekerja di Australia yang Mendukung Boikot Kapal Belanda di Brisbane. Sumber: Majalah Freedom, edisi I, 1946.

Gerakan yang kemudian dikenang dengan istilah “Armada Hitam” ini cukup berperan besar dalam mendorong pemerintah Australia, yang saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri Ben Chifley, untuk mendukung diakuinya kemerdekaan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ini juga merupakan awal mula hubungan baik antara Indonesia dan Australia.

Demonstrasi Aktivis SARPELINDO dan Serikat Pekerja Queensland di Trades Hall, Albert Street, Brisbane. Sumber: Majalah Freedom, Edisi II, Tahun 1946.

Solidaritas Serikat Pekerja Queensland

Organisasi-organisasi serikat pekerja di Queensland memiliki peranan penting tersendiri bagi kemerdekaan Indonesia. Di antara organisasi tersebut adalah Queensland Trades and Labor Council, sekarang bernama Queensland Council of Unions, sebuah organisasi payung yang mewadahi serikat-serikat pekerja di Queensland dan berkantor di Brisbane. Organisasi ini banyak menghubungkan CENKIM dan Sarpelindo dalam aksi-aksi demonstrasi di Queensland.

Pada tahun 1946, beberapa tokoh serikat pekerja di Queensland memberikan testimoni dukungan kemerdekaan Indonesia di Majalah “Freedom”, salah satunya adalah Mick Healy, Sekjen Queensland Trades and Labor Council. Di tulisan tersebut, Mick menyampaikan kekagumannya atas perjuangan rakyat Indonesia dalam mencari pengakuan kedaulatan internasional. Ia menyatakan bersedia melakukan apapun untuk membantu perjuangan tersebut.

Cerita solidaritas para aktivis dan serikat pekerja di Australia ini menggambarkan bagaimana kiprah warga Indonesia di luar negeri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama pekerja dan pemerintah lokal Australia. Caranya memang tidak dicapai melalui perang gerilya, tetapi melalui diplomasi dan aksi demonstrasi, yang kemudian juga menjadi tonggak hubungan diplomasi antar kedua negara.

The Conversation

Ahmad Rizky M. Umar does not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organization that would benefit from this article, and has disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.