Tiga alasan disinformasi menyebar dan yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya

GettyImages

Donald Trump mencemooh liputan berita penting sebagai “berita palsu” dan keengganannya untuk mengakui pemilihan presiden 2020 akhirnya menyebabkan kerusuhan di gedung parlemen pada 6 Januari 2021.

Selama bertahun-tahun, penyiar radio Alex Jones mengecam orang tua dari anak-anak yang menjadi korban dalam penembakan di sekolah Sandy Hook di Newton, Connecticut, Amerika Serikat sebagai “aktor krisis.” Pada tanggal 5 Agustus 2022, ia diperintahkan oleh seorang juri untuk membayar ganti rugi lebih dari US$49 juta atau sekitar Rp 736 miliar kepada dua keluarga karena pencemaran nama baik.

Ini bukanlah upaya untuk membanjiri media informasi dengan informasi tidak benar atau konten merugikan. Pemerintah, organisasi, dan individu menyebarkan disinformasi untuk keuntungan atau mendapatkan keuntungan strategis.

Namun, mengapa ada begitu banyak disinformasi? Apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi diri kita sendiri?

Tiga alasan besar

Tiga aliran pemikiran telah menelaah masalah ini. Yang pertama menunjukkan bahwa disinformasi begitu meluas karena ketidakpercayaan terhadap sumber otoritas tradisional, termasuk media berita, terus meningkat. Ketika orang-orang berpikir bahwa media arus utama tidak berhasil minta pertanggungjawaban kepada industri dan pemerintah, masyarakat kemudian lebih cenderung menerima informasi yang menantang kepercayaan konvensional.

Kedua, fokus platform media sosial pada tingkat interaksi kerap mendorong mereka untuk mempromosikan klaim heboh yang menghasilkan kemarahan, terlepas dari kebenaran klaim tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa informasi palsu di media sosial menyebar lebih jauh, lebih cepat, dan lebih dalam daripada informasi faktual karena lebih baru dan mencengangkan.

Terakhir, peran taktik disinformasi yang menyulut konflik dan disengaja tidak dapat diabaikan. Facebook memperkirakan bahwa selama pemilu di Amerika Serikat tahun 2016, konten merugikan dari Badan Riset Internet Rusia yang bertujuan untuk menciptakan perpecahan dalam pemungutan suara publik menjangkau 126 juta orang di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.




Baca juga:
Russian government accounts are using a Twitter loophole to spread disinformation


Banyaknya nuansa disinformasi

Krisis informasi umumnya dibingkai dalam hal penyebaran informasi palsu, baik secara disengaja (disinformasi) maupun tidak disengaja (misinformasi). Namun, pendekatan ini melewatkan bentuk propaganda yang signifikan, termasuk teknik yang diasah selama Perang Dingin.

Sebagian besar upaya pengaruh Rusia di Twitter tidak melibatkan komunikasi konten yang terbukti salah. Sebaliknya, contoh-contoh propaganda subversif tidak kentara umum dan terus terjadi, termasuk seruan untuk memecat pejabat-pejabat Amerika, membeli iklan yang memecah-belah, dan mengoordinasikan protes-protes di lapangan.

Disinformasi Rusia di Twitter melibatkan seruan untuk memecat pejabat-pejabat Amerika dan mengoordinasikan protes nyata.
AP

Sayangnya, misinformasi yang tersebar tanpa disengaja juga dapat memiliki konsekuensi yang tragis. Pada tahun 2020, beberapa orang di Nigeria meninggal dunia karena overdosis setelah klaim palsu Donald Trump bahwa hydroxychloroquine menunjukkan “hasil yang sangat memuaskan” terhadap COVID-19 menyebar secara cepat di media sosial.




Baca juga:
The story of #DanLiedPeopleDied: how a hashtag reveals Australia’s ‘information disorder’ problem


Respons terhadap propaganda dan disinformasi

Jadi, bagaimana berbagai institusi berbeda menanggapi misinformasi dan disinformasi?

Kasus dan putusan juri pada kasus Jones memberi contoh upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk melawan disinformasi. Ancaman hukum membayar ganti rugi sebesar US$49 juta merupakan konsekuensi yang mendorong masyarakat untuk memverifikasi kembali yang ingin mereka sampaikan sebelum mengucapkannya.

Berbagai pemerintahan dan perusahaan juga telah mengambil langkah signifikan untuk memberantas disinformai. Setelah invasi Rusia di Ukraina tahun 2022 ini, Uni Eropa memberhentikan penyiaran Russia Today, yaitu jaringan televisi terkenal milik Rusia yang tidak lagi tersedia di Eropa atau di Afrika.

Sejak 2015, proyek EUvsDisinfo telah melawan propaganda Rusia dan membahas “kampanye disinformasi yang sedang berlangsung dari Federasi Rusia yang mempengaruhi Uni Eropa, negara-negara anggotanya, dan negara-negara di sekitarnya.” Google kemudian mengikuti langkah ini pada tahun 2022 dengan meluncurkan Dasbor Rusia-Ukraina ConflickMisinfo yang mencantumkan klaim-klaim meragukan terkait invasi dan melakukan pemeriksaan fakta seputar kebenaran klaim-klaim tersebut.




Baca juga:
China’s disinformation threat is real. We need better defences against state-based cyber campaigns


Wikipedia sebagai anti-propaganda?

Masyarakat biasa juga memiliki beberapa cara untuk melawan disinformasi. Literasi informasi biasanya dibuat sebagai tanggung jawab individu, tetapi dua akademisi asal Swedia, Jutta Haider dan Olof Sundin, menunjukkan bahwa “rasa kebenaran bersama membutuhkan kepercayaan masyarakat, terutama kepercayaan institusional, setidaknya sebagai impian yang dapat diantisipasi.”

Bagaimana kita dapat menciptakan kembali akal sehat tentang kebenaran? Wikipedia – ensiklopedia online dengan akses bebas yang memproduksi pengetahuan secara kolektif – merupakan permulaan yang baik.

Wikipedia telah muncul sebagai sumber yang menarik dalam memerangi disinformasi.
EPA

Wikipedia memiliki kebijakan terkait netralitas dan verifiabilitas yang diberlakukan oleh komunitas. Siapapun dapat menyunting halaman Wikipedia, tetapi banyak administrator, pengguna, dan “bot” pengaturan otomatis memastikan akurasi penyuntingan ini sebaik mungkin. Modifikasi dan perdebatan mengenai konten artikel diarsipkan di situs web dan dapat dilihat oleh semua orang. Ini menunjukkan proses editorial transparan. Dengan kemungkinan pengecualian topik tanpa kejelasan yang melibatkan sangat sedikit editor, misinformasi disingkirkan dengan cepat.

Pendidikan adalah kunci

Sebagai konsumen informasi, kita dapat memulai langkah untuk melindungi diri dari disinformasi. Beberapa langkah penting yang dapat kita lakukan adalah dengan mencari dan membaca berbagai sumber dan tidak menyebarkan konten yang meragukan. Sekolah melakukan perannya untuk menyampaikan pesan ini.




Baca juga:
We live in an age of ‘fake news’. But Australian children are not learning enough about media literacy


Di Australia, ada beberapa inisiatif yang patut diperhatikan. Para guru di Camberwell Grammar School di Canterbury, Victoria telah memanfaatkan sumber yang diproduksi oleh ABC Education untuk mengajari siswa cara mengidentifikasi sumber berita yang kredibel. Di samping itu, program percontohan University of Canberra menggunakan prinsip “lateral reading” Standford University sedang diuji coba di tiga sekolah dasar dan sekolah menengah di ACT (Australian Capital Territory) atau Wilayah Ibu Kota Australia tahun ini. Program ini memberi instruksi kepada peserta untuk mencari tahu dan memeriksa Wikipedia jika mereka menemukan klaim yang tidak diketahui atau meragukan. Jika tidak dapat diverifikasi, tinggalkan klaim tersebut.

Edukasi informasi seperti ini perlu dilengkapi dengan kesadaran akan norma dan nilai demokrasi. Tidak hanya itu, pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya privasi juga harus diimplementasikan: semakin banyak kita berbagi tentang diri kita, semakin besar kemungkinan kita menjadi sasaran kampanye disinformasi.

Meskipun disinformasi dapat berlanjut dan bahkan semakin berkembang di wilayah tertentu, beberapa cara terbaik untuk melindungi diri dari disinformasi adalah dengan memastikan bahwa kita membaca informasi dari berbagai sumber yang kredibel, menggunakan layanan pengecekan fakta, dan menjadi lebih bijaksana tentang informasi yang kita baca dan bagikan.

Sederhananya, jangan menanggapi perilaku oknum-oknum yang menyebarkan informasi untuk mencari perhatian atau memicu konflik – atau platform di mana mereka berada.

The Conversation

Mathieu O’Neil menerima dana dari ACT Education Directorate dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Australia). Ia terafiliasi dengan Digital Commons Policy Council.

Michael Jensen menerima dana dari Australian Defence Science and Technology Group, beasiswa dari pemerintah Taiwan dan, Australian Research Council.